Friday, 15 February 2013

berita KOMPAS.com



Ada sekilas berita dari KOMPAS.com, bukan hanya sekedar cerita tapi melainkan ada sebuah contoh perbuatan yang telah dilakukan oleh seorang dokter yang ada di Surabaya, semoga dari apa yang telah diberitakan oleh KOMPAS.com ini dapat bisa bersinergi dengan program Karya Nyata Sosial. Agar dimaksudkan bisa lebih “kaya” lagi dalam hal mensejahterakan seluruh Rakyat Indonesia. Amin 


Klinik Keliling untuk Kaum Marjinal

Kamis, 1 September 2011 | 09:34 WIB
|
Share
:
www.sangteladan.com
dr.Michael Leksodimulyo
Oleh: Yulvianus Harjono
Tergerak hatinya, dr Michael Leksodimulyo (43) melepas jabatannya sebagai anggota staf direksi di Rumah Sakit Adi Husada, Surabaya, Jawa Timur. Sangat berbeda dengan pekerjaannya dulu, ia kini sibuk menyusuri perkampungan kumuh di tepi rel kereta api, kolong jembatan, hingga lokalisasi pelacuran.
Sebagai dokter relawan yang mengemban misi solidaritas kemanusiaan, kini hanya satu tujuan terlintas di benaknya: layanan kesehatan juga harus dapat menjangkau masyarakat termarjinalkan. Mereka yang sering kali terlupakan akibat ketidakberdayaan ekonomi dan akses kesehatan.
Menurut dia, layanan kesehatan sebaiknya dilakukan dengan pola jemput bola, sebisa mungkin didekatkan dengan obyek atau pasien. Prinsipnya, dokter mendatangi pasien. Bukan sebaliknya, dokter berpangku tangan menunggu pasien, seperti terjadi saat ini.
Dari pemikiran ini, Michael lalu menjalankan klinik keliling melalui lembaga tempat dia mengabdi sekarang, yaitu Yayasan Pondok Kasih, Surabaya. Klinik keliling ini memberikan layanan pengobatan umum dan gigi bagi masyarakat di kantong-kantong kemiskinan.
Sejak berdiri awal 2009, klinik keliling telah melayani warga miskin di 87 titik di Surabaya dan sekitarnya. Tempat yang dia pilih pun beragam, mulai dari kawasan tempat pembuangan akhir sampah di Benowo, permukiman kumuh di bawah jembatan Tol Dupak, hingga kawasan lokalisasi Gang Dolly.
Saat ini ada 36 tim anggota relawan, termasuk enam dokter umum dan empat dokter gigi, yang aktif melakukan layanan klinik keliling. Jumlah pasiennya sekitar 8.500 orang per bulan. Mereka adalah para gelandangan, pengemis, pemulung, waria, tukang becak, hingga wanita tunasusila. Seluruh layanan kesehatan dan pengobatan cuma-cuma alias gratis.
”Layanan (kesehatan) bagi yang mampu sudah banyak. Mereka pun bisa datang sendiri ke rumah sakit. Namun, tidak demikian halnya dengan kaum miskin. Sedikit saat ini yang mau mengurusi mereka. Ini menyedihkan. Padahal, mereka juga sama-sama hamba Tuhan,” ucap Michael di sela-sela penganugerahan penghargaan Sang Teladan di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Meninggalkan karier
Berkat pengabdiannya, Michael dianugerahi penghargaan Sang Teladan Favorit pilihan masyarakat. Michael terpilih dari 857 kandidat se-Tanah Air dalam program penganugerahan bidang kesehatan yang diinisiasi perusahaan obat Decolgen.
Segala upayanya, yaitu memberikan pelayanan kesehatan cuma-cuma kepada kaum miskin, tidaklah terlepas dari perjumpaan Michael dengan Hana Amalia Vandayani, yang kini Ketua Yayasan Pondok Kasih.
Dia bercerita, suatu ketika dia diajak Hana mengunjungi kantong kemiskinan di Kota Surabaya. Saat itu, dia masih menjabat sebagai wakil direktur di Rumah Sakit Adi Husada, Undaan.
”Dalam perjalanan, tiba-tiba ada wanita tua yang cacat, kumal, bau, dan berkeringat. Tiba-tiba, Ibu Hana turun dari mobilnya dan mengusap wajah serta keringatnya dengan gaunnya yang mewah. Wanita itu lalu dirangkul, diusap, dan diberi makanan. Melihat ini, hati saya menangis dan bergetar,” ujar Michael dengan mata berkaca-kaca mengenang kejadian itu.
Peristiwa ini pun mengubah jalan hidupnya. Dia kemudian memutuskan meninggalkan kariernya sebagai salah satu anggota direksi RS Adi Husada lalu bergabung di Pondok Kasih. Dia merasa terpanggil menjadi dokter bagi kaum miskin. ”Memberikan sesuatu kepada sesama jangan hanya didasarkan pada belas kasihan, melainkan cinta. Dengan cinta kasih, kita lega mencurahkan segalanya, baik tenaga maupun waktu,” tuturnya.
Saat ini, program klinik kelilingnya terus berkembang. Layanannya pun terus meluas hingga pesisir Jawa Timur. Michael dan Yayasan Pondok Kasih telah mendirikan 10 klinik dan pos (sub) klinik permanen di sejumlah titik di Kota Surabaya. Salah satu klinik ini berada di permukiman Gang Dolly, yang terkenal dengan reputasi prostitusinya.
Kawasan Gang Dolly
Michael ternyata juga tidak melulu memberikan layanan kesehatan. Cakupan program bakti sosialnya semakin meluas. Di Gang Dolly, misalnya, selain program penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan berkala, timnya juga memberikan layanan perawatan dan peningkatan gizi bagi anak-anak dari para perempuan tunasusila di daerah ini.
”Keberadaan anak-anak ini sangat menyedihkan. Mereka tidak punya bapak, keberadaan mereka pun umumnya tidaklah diinginkan. Tidak ada yang peduli dengan mereka, pemerintah juga. Kami coba bertindak melakukan sesuatu,” ujarnya.
Program peningkatan gizi bagi anak usia balita ini dia terapkan pula di titik-titik lain. Dengan demikian, selain pengobatan gratis, dia dan timnya juga kerap memberikan bantuan makanan sehat dan susu ke sejumlah kantong kemiskinan yang memiliki banyak anak usia balita kurang gizi. Total rata-rata 4.500 anak usia balita yang teratasi program ini per bulan.
Dalam perkembangannya, Michael menyadari, para pasiennya yang juga masyarakat miskin tidak bisa selamanya hanya mengandalkan bantuan. Untuk itu, digagas pula program yang mendorong kemandirian warga. Yayasan Pondok Kasih melakukan kegiatan pelatihan membuat kerajinan tangan, misalnya sulaman.
”Ini, misalnya, diikuti para mantan pengemis. Mereka kami latih dan diberikan pula modal Rp 500.000 per orang. Lalu, hasil produksinya kami pasarkan ke luar negeri lewat link kami (Yayasan Pondok Kasih),” tuturnya.
Michael mendapat dana untuk pengobatan gratis dan berbagai program pemberdayaan warga dari hasil sumbangan masyarakat, khususnya pengusaha lokal, ditambah bantuan dari luar negeri yang masuk melalui Yayasan Pondok Kasih.
Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarga sehari-hari, Michael bercerita, ia masih sering menjadi pembawa acara pada acara pernikahan dan program di radio serta televisi lokal di Surabaya.
Menurut dia, sebagai dokter, materi bukanlah segala-galanya untuk dicari. Prinsipnya, cinta kasih bukanlah untuk diperlihatkan, melainkan diberikan kepada sesama. ”Dengan cara ini, tidak akan ada lagi orang miskin. Mereka menjadi orang-orang yang ’kaya’. Ya, kaya cinta kasih dari sesama,” tuturnya kemudian.

No comments:

Post a Comment